Enzim merupakan senyawa protein dapat larut yang diproduksi oleh organisme hidup (Jacobs et al.,
1965; Singleton dan Sainsbury, 2001). Enzim berfungsi sebagai
katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa-senyawa organik
yang komplek menjadi sederhana. Katalisator akan ikut serta dalam reaksi
dan mengalami perubahan fisik selama reaksi, tetapi akan kembali
kekeadaan semula bila reaksi telah selesai (Harper et al.,
1979). Enzim juga dapat didefinisikan sebagai molekul biopolimer yang
tersusun dari serangkaian asam amino dalam komposisi dan susunan rantai
yang teratur dan tetap. Enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup
untuk mengkatalisis reaksi antara lain konversi energi dan metabolisme
pertahanan sel (Richana, 2002).
Tubuh
makhluk hidup dapat memproduksi enzim sendiri sesuai dengan kebutuhan,
akan tetapi penambahan enzim pada ransum terkadang masih dibutuhkan.
Penambahan enzim ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti adanya
antinutrisi pada bahan pakan, rendahnya efesiensi kecernaan bahan pakan,
dan ketidaktersediaan enzim tertentu dalam tubuh ternak. Xilanase dan
ß-glucanase adalah contoh enzim yang digunakan untuk meningkatkan daya
cerna pakan pada ternak monogastrik (Samadi, 2004).
Xilanase
merupakan enzim yang mampu menghidrolisis ikatan 1,4-β yang terdapat
pada hemiselulosa dalam hal ini ialah xilan atau polimer dari xilosa dan
xilooligosakarida (Riyanto et al., 2001; Richana, 2002).
Menurut Singleton dan Sainsbury (2001) xilanase dapat diklasifikasikan
berdasarkan substrat yang dihidrolisis dan produk akhirnya, yaitu
β-xilosidase, eksoxilanase, dan endoxilanase.
Hughes
(2003) menyatakan bahwa xilanase mampu memecahkan polisakarida non pati
yang tidak dapat larut dalam gandum, yaitu xilan. Menurut Williams
(1997), enzim xilanase yang ditambahkan ke dalam ransum ternak unggas
berbasis barley atau gandum atau pollard berhasil menurunkan
efek antinutrisi dari polisakarida non pati. Enzim xilanase akan
mengurangi viskositas cairan lambung pada usus halus, sehingga
memperlancar saluran pencernaan dan meningkatkan penyerapan nutrisi.
Xilanase juga merubah hemiselulosa menjadi gula sederhana sehingga
nutrisi yang awalnya terjerat dalam dinding sel hemiselulosa akan
dilepaskan dan dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Gula tersebut dapat
dimanfaatkan oleh tubuh, sehingga ayam akan mendapatkan energi yang
cukup dari makanan dengan jumlah yang lebih sedikit. Reaksi kimia
tersebut sangat mendukung pemanfaatannya terutama untuk pakan ternak
yang berasal dari tumbuhan, baik dalam bentuk segar maupun hasil olahan
(limbah pertanian) untuk meningkatkan daya cerna polisakarida non pati
dalam pakan.
Bedford dan Classen (1992) melaporkan bahwa campuran pakan ayam broiler dengan enzim xilanase yang berasal dari T. longibrachiatum
mampu mengurangi viskositas pencernaan, sehingga meningkatkan
pertambahan bobot badan dan efisiensi konversi ransum. Demikian juga
dengan yang dilaporkan oleh Silversides dan Bedford (1999), penambahan
enzim xilanase (2626-2860 U/g xilanase + 643-940 U/g protease) ke dalam
ransum yang mengandung 56-64% gandum (2,5% serat kasar dalam ransum)
memberikan pengaruh yang positif terhadap pertambahan bobot badan dan
konversi ransum. Dusel et al. (1998) juga melaporkan bahwa
enzim (6000 IU/g xilanase + 2000 IU/g protease) yang ditambahkan ke
dalam pakan dengan kandungan gandum sebesar 73% (2,5% serat kasar dalam
ransum) dapat menurunkan viskositas saluran pencernaan, meningkatkan
EMSn dan pencernaan bahan organik serta lemak kasar. Lázaro et al.
(2003) juga melaporkan bahwa penambahan enzim (864 IU xilanase dan 858
IU β-glukanase) ke dalam ransum broiler yang mengandung 50% gandum dapat
menurunkan viskositas saluran pencernaan, mempercepat waktu transit
ransum dalam saluran pencernaan dan meningkatkan performans ayam
broiler.
Pertambahan bobot badan ayam pedaging yang diberi ransum basal pollard sebanyak
30% dengan suplementasi enzim xilanase 0,01% cenderung tumbuh lebih
cepat dibanding ayam pedaging yang memperoleh ransum lain. Suplementasi
enzim ke dalam ransum basal pollard mampu meningkatkan
efisiensi penggunaan ransum sekitar 4%, sebaliknya suplementasi enzim ke
dalam ransum basal dedak padi tidak mampu memperbaiki efisiensi
penggunaan ransum ayam pedaging. Ini membuktikan bahwa enzim xilanase
yang digunakan dalam penelitian ini lebih efektif apabila digunakan pada
pollard, yang diketahui mengandung lebih banyak
xilan/pentosan atau glukan dibanding dedak. Peningkatan penampilan ayam
pedaging yang diberi ransum basal pollard dengan suplementasi
enzim xilanase ini, kemungkinan juga berkaitan dengan peningkatan
kecernaan protein dan lemak disamping kenaikan kecernaan polisakarida
non pati (Poultry Indonesia, 2006).
Pemanfaatan
enzim xilanase juga telah dilakukan pada ayam petelur. Enzim xilanase
dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kualitas telur, meskipun
tidak mempengaruhi produksi telurnya. Penggunaan enzim xilanase (2000
U/kg; Avizyme 2300) dalam ransum ayam petelur berbasis gandum (75-77%
berat kering total) dapat meningkatkan bobot telur dan putih telur serta
meningkatkan kandungan putih telur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar